Perlukah Niat Puasa Ramadhan Dilafalkan?

Perlukah Niat Puasa Ramadhan Dilafalkan?

Dalam beribadah, niat menjadi sebab utama terlaksanya sebuah ibadah. Islam telah menunjukkan tata cara dan niat untuk melaksanakan ibadah, salah satunya adalah puasa Ramadhan. Berikut ini merupakan bacaan niat puasa Ramadhan: “nawaitu saumagudin an’adai fardi syahri ramadhana hadzihisanati lillahita’ala. Artinya, “saya niat berpuasa sehari penuh, besok di bulan Ramadhan dalam tahun ini atas perintah Allah SWT.”

Perlukan niat puasa ramadhan dilafalkan

Ada perbedaan pandangan di masyarakat  mengenai pelafalan niat sebelum menjalankan ibada puasa ramadhan. Ada yang memiliki pandangan bahwa bacaan niat puasa harus dilafalkan ketika sahur. Ada juga yang memiliki pandangan bahwa niat puasa cukup dalam hati saja. Hal ini seringkali menimbulkan keraguan bagi umat muslim yang sedang menjalani ibadah puasa ramadhan.

Perbedaan pandangan tentang pelafalan niat ini awalnya terjadi karena perbedaan penafsiran an-nuthq yang diuraikan dalam kitab  Al Majmu’ Syarh Muhadzab milik Imam Syafi’I ra. Maksud dari Imam Syafi’i ra tentang an-nuthq adalah  melafalkan takbiratul ikhram. Sedangkan sebagian Syafi’iyah mengartikan an-nuthq sebagai pelafalan niat. Perbedaan ini lalu berkembang ke niat puasa dan niat-niat ibadah lainnya.

Mengenai perbedaan ini, ada pandangan An-Nawawi yang dapat dijadikan rujukan dalam kitabnya I’anatut Thalibin. Beliau berpendapat bahwa niat dalam puasa dapat dicukupkan dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan. Dengan demikian, bacaan niat puasa ramadhan jika dilafalkan ataupun jika hanya diucapkan dalam hati, puasanya akan tetap dapat dijalankan.